Jumat, 23 September 2022

Vidio Karnaval Peringatan HUT RI ke 77 , Agustus 2022

 Kegiatan Karnaval peringatan HUT RI ke 77 desa Sijeruk dilaksanakan pada 18 Agustus 2022.


Vidio 1 


Vidio 2




Vidio 3 


Vidio 4



Vidio 5


Vidio 6






Vidio 7


Sabtu, 13 Februari 2021

Cintaku Pada Desaku

 


Cintaku Pada Desaku

Karya : Getah Maja


Sayapku membawaku terbang selalu jauh

Mataku membuatku melihat terlalu banyak

Tak henti melintasi siang dan malam

Meski aku hanya elang perindu

Di pusaran dan gejolak terang maupan kelam

Akulah pelantun senandung suka duka

Tentang kampung halaman

Aku membawa rasa cinta tanah kelahiran

Hatiku setia tak pernah layu

bernyanyi bersama senja yg meraybu

Menunggu bergulirnya malam demi malam

Sampai tergenapkan waktu dan kewajiban

Aku berkemas menuju pulang

Memeluk dan meraih damai

Di tanah impian kampung pujaan

Menikmati rembulan ditengah malam

Bersenda gurau bersama kawan

Bercerita tentang bunga ungu

Diatas bukit di nangka

#lovesijerukfebruari2021

Minggu, 07 Februari 2021

Kidung Cinta 2021

Assalamu'alaikum,,

Apa kabar sobat blogger, 

Sobat tentunya pernah dengar nama atau bahkan kisah mengenai gunung Pawinihan. Gunung yang satu ini berada di tengah wilayah kabupaten Banjarnegara tepatnya di kecamatan Banjarmangu. Pawinihan sendiri dalam bahasa Jawa berarti pembibitan. Konon dahulu berbagai jenis tumbuhan yang memiliki buah dapat ditemukan di tempat ini. Dari cerita yang dituturkan rakyat setempat, dahulu Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir pernah menginjakkan kakinya di tempat  ini. Ada lagi   kisah yang mashur berhubungan erat dengan kisah  berdirinya desa Sijeruk. Berdasarkan penuturan dari salah satu narasumber tempo dulu yang merupakan tokoh masyatakat di Sijeruk menyebutkan bahwa nama Sijeruk merupakan singkatan dari Siji Jejere wong Rukun. 

Pada umumnya masyarakat desa Sijeruk merupakan penikmat seni. Berbagai aliran seni telah tumbuh dan tenggelam seiring gilir bergantinya waktu. Namun hingga ini pelestari seni tetap ada dan saya rasa akan tetap ada. Berikut ini adalah salah satu karya seni yang saya temukan pada grup FB Info Desa Sijeruk.

Selamat menikmati, 

Cintaku Pada Desaku


Kidung Cinta

Buah karya Getah Maja


Hangat sinar surya

Menyapa dan memeluk

Dari timur bukit kerinjing

Dan rimbun pawinihan

Ladang dan sawah

Menghampar beraneka

Tanaman lukisan sejahtera

Wajah wajah damai nan ceria

Bersimpul senyum tulus dan cinta

Saling bersaut sapa

Puteri puteri kecil yg jelita

Dan anak anak muda yg perkasa

Saling asah asih asuh dlm sukacita

Ohhhh dewataaaa

Begitu indah sempurna

Sijeruk dlm asuhan paduka

Titik kecil di Nusantara

Diapit dua sungai jernih

Sejernih wajah wajah saudara dan sahabat

Sejuta kata tak cukup

Sanjungkan desaku

Seribu lagu

Terlalu sedikit

Ceritakan desaku

Tempatku lahir dan besar

Tempatku berharap

Hembusan nafas terakhirku

Cintaku,,,kesungguhanku dan kerinduanku

Untukmuuuuuu


Sabtu, 26 Desember 2020

Lanjutan 1 artikel Desa Sijeruk

Beberapa tempat di Desa Sijeruk merupakan bukit-bukit kecil atau gunung. Masyarakat setempat menyebutnya dengan istilah 'punthuk' atau gunung. Ada satu gunung besar yang menjadi batas wilayah Desa Sijeruk pada bagian barat. Yaitu Gunung Pawinihan. Mendengar nama Gunung Pawinihan bagi sebagian orang tentunya sudah tidak asing lagi. Banyak cerita warga yang berkait erat dengan Gunung Pawinihan. Salah satunya adalah mengenai sejarah berdirinya Desa Sijeruk. Atau cerita berdirinya Desa Sijeruk. Karena jika kita bicara sejarah tentunya harus didukung boleh bukti-bukti yang kuat mengenai kejadian pada masa lampau.

Jati diri suatu bangsa dapat dikenali melalui sejarahnya. Dalam lingkup yang lebih kecil, tentunya karakteristik  warga masyarakat juga dipengaruhi oleh sejarahnya. Walaupun tidak sesempurna sejarah pada buku-buku sejarah. Cerita mengenai terbentuknya masyarakat  sebuah desa atau berdirinya sebuah desa sedikit banyak membuat kita mengenal masyarakat desa tersebut. Mengenai kisah terbentuknya atau berdirinya desa Sijeruk insyaaAlloh akan disajikan pada kesempatan yang lain dengan episod yang berbeda.

Selain Gunung Pawinihan, di samping pemukiman warga Dusun Sijeruk berdiri kokoh Gunung Wugul. Masyarakat menyebutnya Gunung Nangka. Memang di tempat tersebut tanaman buah nagka dapat tumbuh dengan baik. Nama Gunung Wugul sendiri dijadikan nama proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM) yang sekarang sedang berlangsung. Nama yang digunakan PLTM Gunung Wugul. PLTM Gunung Wugul rencananya memanfaatkan  aliran air dari Kali Urang untuk menghasilkan arus listrik. Kini sedang dalam proses pembangunan.

Di sebelah timur pemukiman warga Dusun Sijeruk. Tepatnya ditengah lahan persawahan berdiri Gunung Krinjing. Dengan jarak kurang lebih satu kilometer dari permukiman. Dari jauh tersebut memang tampak seperti 'krinjing' yang dibalik dengan posisi bibir 'krinjing' di bawah. 'Krinjing' adalah nama wadah sejenis bakul namun lebih besar, terbuat dari bambu. Dahulu 'krinjing'  digunakan untuk membawa barang-barang jenis sayuran atau bahan masakan. Anyaman bambu pada 'krinjing ' berbeda dengan anyaman pada bakul maupun 'tumbu'. 

Kira-kira satu kilometer ke arah timur dari Gunung Krinjing, Kali Urang bertemu dengan Kali Merawu. Peda pertemuan kedua sungai inilah Kali Urang selesai. Kali urang mengalir ke timur bertemu Kali Merawu yang mengalir ke barat bdubah arah ke selatan dengan nama Kali Merawu. Mengalir terus melewati beberapa desa sampai beryeku dengan Kali Serayu yang menjadi ikon Kabupaten Banjarnegara selain Dawet Ayu dan Dataran Tinggi Dieng.

Di sebelah timur dan selatan Kali Merawu, masih berbatasan dengan Desa Sijeruk dan Desa Kalilunjar berdiri tegak Gunung Maung, yang sudah sejak lama namanya menggema dengan istilah PLTA Maung. Hal ini karena adanya rencana membendung aliran Kali Merawu yang berada di samping Gunung Maung untuk menghasilkan energi listrik. 

Masih bicara tentang gunung.

Di sebelah barat daya dari Gunung Krinjing dengan jarak lebih kurang 500 meter terdapat batu besar menjulang seperti bentuk balok. Tepatnya berada di lahan perkebunan warga. Masyarakat menyebut tempat disekitar batu tersebut berada dengan nama Gunung Cilik. 

Batu besar tersebut ada secara alamiah. Adapun jenis batu ini disebut sebagai jenis 'watu bangkong'. 'Watu bangkong' merupakan istilah yang digunakan warga untuk menyebut salah satu jenis batuan sedimen. Jenis batuan ini terdiri dari unsur keras dan unsur yang lebih lunak. Bagian yang lunak mudak terkikis sehingga bagian yang keras tampak menonjol di permukaan. Seperti bitik-bintik pada badan 'bangkong'. Sejenis hewan amfibi yang hidup di tempat kering. Biasanya yinggal di sekitar permukiman warga. Bangkong merupakan hewan yang memiliki racun pada tubuhnya.

Di Gunung Cilik banyak terdapat bongkahan 'watu bangkong' yang bertumpuk. Beberapa diantaranya memiliki rongga di bawahnya seperti gua namun kecil. Rongga atau gua kecil di bawah bongkahan 'watu bangkong' merupakan tempat tinggal yang nyaman bagi landak. Landak merupakan jenia hewan mamalia herbivora yang memiliki rambut kaku pada kulit tubuhnya seperti duri. Rambut duri ini berfungsi sebagai alat perlindungan  diri dari serangan musuhnya.

Ada satu cerita dari orang tua mengenai Gunung Cilik. Sebagaimana yang telah saya sebutkan di atas tadi bahwa di Gunung Cilik di sela-sela bongkahan 'watu banhkong' terdapat rongga atau gua kecil. Gua kecil tersebut dahulu pernah dijadikan tempat mengungsi oleh untuk menghindari serangan tentara Belanda dari serangan pesawat tempur tentara Belanda. Mereka membawa perlengkapan masak untuk bertahan hidup di masa sulit.

Di area permukiman warga terdapat tempat yang sedikit tinggi dinamakan Gunung Sigot. Jika dilihat dari sebelah timur, Gunung Sigot merupakan tebing batu dengan jenis 'watu bangkong, dengan ketinggian lebih kurang 20 meter dari jalan. Jalan yang berada di sebelah timur Gunung Sigot merupakan jalan lama. Jalan ini dahulu merupakan jalan utama pada masa Hindia Belanda. Lalu lintas dari Banjarnegara ke Karangkobar atau sebaliknya waktu itu melalui jalan ini. Sebelum jalan yang sekarang digunakan dibangun. Jalan lama kini telah terputus, sebagian besar telah alih fungsi menjadi lahan pertanian. Sejak penulis masih kecil tidak melihat jalan itu, hanya mendengar cerita dari orang-orang tua dan beberapa tiang besi bekas tiang telepon yang berada di lahan sawah milik warga.

Adapun Gunung Sigot jika dilihat dari arah barat merupakan sebuah 'punthuk' . Punthuk adalah istilah yang digunakan warga untuk menyebut tempat yang agak tinggi seperti bukit dengan ketinggian beberapa meter. Konon dahulu Gunung Sigot dijadikan tempat Bupati Banjarnegara 'nginggeng' atau mengintai pasukan musuh yang berada di jalan. Jika kita berdiri di atas Gunung Sigot, kita bisa melihat lahan persawahan penduduk, Gunung Krinjing, Ginung Cilik, gunung Maung, Kali Urang dan Kali Merawu. Gunung Sigot juga behubung erat dengan cerita berdirinya Desa Sijeruk. Mengenai cerita ini InsyaaAlloh akan disajikan pada kesempatan yang lain dengan episid yang berbeda.


Tepat di sebelah barat Dusun Sijeruk terdapat tempat Pemakaman Umum warga. Tempat tersebut berada lebih tunggi dari permukiman warga. Disekitar Tempat Pemakaman Umum tersebut terhampar area perkebunan warga. Sebagian besar lahan perkebunan tersebut dipenuhi tanaman salak pondoh yang merupaka komoditas andalan warga Desa Sijeruk. Area perkebunan warga berada disebuah bukit dan warga setempat menyebutnya Gunung Wergul atau Gunung Wregul. Adapun sejarah tempat Pemakaman Umum warga berhubugan dengan cerita berdirinya Desa Sijeruk. Konon pendiri Desa Sijeruk menemukan makam di tengah rerimbunan tumbuhan glagah sebelum desa ini wujud.


👉👉👉 (Bersambung....)  

----

Jumat, 25 Desember 2020

Desa Sijeruk

Desa Sijeruk adalah sebuah desa di wilayah kecamatan Banjarmangu Kabupaten Banjarnegara provinsi Jawa Tengah.

Wilayah desa Sijeruk terdiri dari 2 wilayah dusun,  yaitu dusun Sijeruk dan dusun Gunungraja. Tiap-tiap wialayh dusun dikepalai seorang Kepala Dusun. Kepala Dusun merupakan bagian dari perangkat desa. Yang bertanggung jawab langsung kepada Kepala Desa.

Disamping pembagian wilayah mejadi 2 dusun, desa Sijeruk terdiri dari 18 Rukun Tetangga (RT) yang dikelompokkan menjadi 3 Rukun Warga (RW), yaitu; RW 1, RW 2 dan RW 3. 

RW 1 terdiri dari 5 RT.

RW 2 terdiri dari 7 RT

RW 3 terdiri dari 6 RT.

Setiap kelompok RT diketuai seorang ketua RT. Sedangkan setiap kelompok RW diketuai seorang ketua RW. 

Berbeda dengan Kepala Dusun, Ketua RT maupun Ketua RW tidak termasuk jajaran perangkat desa. Baik Ketua RT maupun Ketua RW merupakan tokoh masyarakat yang diberi tugas oleh Kepala Desa membantu pemerintah desa agar program pemerintah desa berjalan dengan lancar. Disamping itu salah satu tugas dari Ketu RT maupun Ketua RW adalah menjembatani warga desa dengan pemerintah terkait penyampaian aspirasi dari warga desa kepada pemerintah desa.

Adapun mengenai urusan administrasi dan kependudukan dilaksanakan Kepala Seksi (Kasi) dan Kepala Urusan (Kaur) yang bertanggung jawab kepada Sekretaris Desa. Untuk kelancaran urusan administrasi seperti pengiriman surat dengan cepat Kasi dan Kaur dibantu oleh Staf Pembantu Kaur.

Baik Kepala Dusun maupun Sekretaris Desa bertanggung jawab langsung kepada Kepala Desa. 

Selain perangkat desa masih ada beberapa lembaga di desa yang bertugas mendukung dan membantu kelancaran jalannya penyelenggaraan pemerintahan desa. Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; KPMD, LP3M, Hansip Linmas, Tim Pengerak PKK, dsb. 

Secara struktural Pemerintahan Desa terdiri dari dua elemen yaitu Pemerintah Desa dan Badan Permusyawatan Desa (BPD). Pemerintah Desa dipimpin Kepala desa sebagai Eksekutif. Sedangkan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) sebagai unsur Legislatif terdiri darin 7 anggota dan diketuai oleh seorang Ketua BPD. Dari 7 anggota BPD, 6 diantaanya merupakan perwakilan dari wilayah masyarakat . Sedangkan salah satunya merupakan perwakilan dari unsur perempuan.

Dalam menyelenggarakan pemerintahan desa, Pemerintah Desa berkoordinasi dengan BPD dalam beberapa hal. Diantaranya dalam menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (Budgeting) serta menyusun dan menetapkan Peraturan Desa (Legislasi). Adapun dalam hal pelaksanaan anggaran, Pemerintah Desa bertindak sebagai pelaksana/eksekutor sedangkan BPD menjalankan fungsi pengawasan (monitoring). 

Dalam menjalankan fungsinya masing-masing, Pemerintah Desa dan  BPD melakukan koordinasi dengan mengedepankan musyawarah untuk mencapai mufakat. Sehingga Pemerintah Desa maupun BPD bersikap sebagai mitra kerja.

----------

Wilayah administrasi Desa Sijeruk berbatasan dengan Desa Kalilunjar di sebelah selatan dengan batas Kali Wewe. Berbatasan dengan Desa Paweden di sebelah utara dengan batas Kali Urang. Sedangkan pada bagian barat merupakqn lahan pertanian yang berbatasan dengan Desa Prendengan dan hutan Gunung Pawinihan. Di bagian timur desa Sijeruk dibatasi oleh Kali Urang dan Kali Merawu. Kali Urang yang bermata air di kaki Gunung Ragajembangan bertemu dengan Kali Merawu tepat di timur wilayah Desa Sijeruk dan airnya  mengalir ke Kali Merawu. Mengenai aliran Kali Merawu  berhubungan erat dengan sejarah cikal bakal berdirinya kabupaten Banjarnegara, yang ditilis pada buku Muatan Lokal Dawet Ayu Banjarnegara pada jenjang Sekolah Dasar.


Sebagian besar wilayah Desa Sijeruk merupakan lahan pertanian yang cukup subur dengan tekstur tanah sebagian gembur dan sebagian yang lain merupakan tanah berlempung. Denga kondisi miring dan cukup curah hujan pada musim tertentu.

Dengan ketinggian sekitar 700 hingga 1000 mdpl, tanah di wilayah Desa Sijeruk dapat ditumbuhi berbagai komoditas pertanian. Namun pada umumnya masyarakat petani di Desa Sijeruk mengandalkan komoditas padi, salak, dan kayu albasia untuk menopang kebutuhan hidupnya. Meskipun ada kokoditas lainnya yang digeluti pada lahan pertanian atau perkebunannya.

Dengan tekstur tanah berlempung dan miring menjadikan sebagian besar wilayah Desa Sijeruk rawan pergerakan tanah pada musim tertentu. Di sisi lain merupakan tempat yang cocok untuk mengembangkan komoditas pertanian dan perkebunan. Sebut saja tanaman yang bernilai jual tinggi seperti cengkih an kapulaga dapat tumbuh dengan baik di wilayah perkebunan Desa Sijeruk

Begitu pula tanaman kelapa dan aren dapat tumbuh dengan baik di wilayah Desa Sijeruk. Kelapa merupakan tanaman daerah pantai/pesisir sedangkan aren merupakan tanaman daerah pegunungan.

Selain mengelola lahan pertanian dan perkebunan, sebagian warga Desa Sijeruk melakukan aktifitas ekonomi sebagai penambang batu alam. Tidak sedikit warga masyarakat Desa Sijeruk yang menekuni profesi tersebut. Hal ini tentunya bagi mereka merupakan profesi yang menjanjikan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Ketrampilan menambang batu alam memang sudah turun-temurun sejak dulu.

👉👉👉(Bersambung.....)

-------