Kamis, 10 Agustus 2023
Lomba Pidato
Rabu, 26 April 2023
Sholat Hari Raya Idul Fitri 1444 H
Jumat, 23 September 2022
Vidio Karnaval Peringatan HUT RI ke 77 , Agustus 2022
Kegiatan Karnaval peringatan HUT RI ke 77 desa Sijeruk dilaksanakan pada 18 Agustus 2022.
Vidio 1
Sabtu, 13 Februari 2021
Cintaku Pada Desaku
Cintaku Pada Desaku
Karya : Getah Maja
Sayapku membawaku terbang selalu jauh
Mataku membuatku melihat terlalu banyak
Tak henti melintasi siang dan malam
Meski aku hanya elang perindu
Di pusaran dan gejolak terang maupan kelam
Akulah pelantun senandung suka duka
Tentang kampung halaman
Aku membawa rasa cinta tanah kelahiran
Hatiku setia tak pernah layu
bernyanyi bersama senja yg meraybu
Menunggu bergulirnya malam demi malam
Sampai tergenapkan waktu dan kewajiban
Aku berkemas menuju pulang
Memeluk dan meraih damai
Di tanah impian kampung pujaan
Menikmati rembulan ditengah malam
Bersenda gurau bersama kawan
Bercerita tentang bunga ungu
Diatas bukit di nangka
#lovesijerukfebruari2021
Minggu, 07 Februari 2021
Kidung Cinta 2021
Assalamu'alaikum,,
Apa kabar sobat blogger,
Sobat tentunya pernah dengar nama atau bahkan kisah mengenai gunung Pawinihan. Gunung yang satu ini berada di tengah wilayah kabupaten Banjarnegara tepatnya di kecamatan Banjarmangu. Pawinihan sendiri dalam bahasa Jawa berarti pembibitan. Konon dahulu berbagai jenis tumbuhan yang memiliki buah dapat ditemukan di tempat ini. Dari cerita yang dituturkan rakyat setempat, dahulu Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir pernah menginjakkan kakinya di tempat ini. Ada lagi kisah yang mashur berhubungan erat dengan kisah berdirinya desa Sijeruk. Berdasarkan penuturan dari salah satu narasumber tempo dulu yang merupakan tokoh masyatakat di Sijeruk menyebutkan bahwa nama Sijeruk merupakan singkatan dari Siji Jejere wong Rukun.
Pada umumnya masyarakat desa Sijeruk merupakan penikmat seni. Berbagai aliran seni telah tumbuh dan tenggelam seiring gilir bergantinya waktu. Namun hingga ini pelestari seni tetap ada dan saya rasa akan tetap ada. Berikut ini adalah salah satu karya seni yang saya temukan pada grup FB Info Desa Sijeruk.
Selamat menikmati,
Kidung Cinta
Buah karya Getah Maja
Hangat sinar surya
Menyapa dan memeluk
Dari timur bukit kerinjing
Dan rimbun pawinihan
Ladang dan sawah
Menghampar beraneka
Tanaman lukisan sejahtera
Wajah wajah damai nan ceria
Bersimpul senyum tulus dan cinta
Saling bersaut sapa
Puteri puteri kecil yg jelita
Dan anak anak muda yg perkasa
Saling asah asih asuh dlm sukacita
Ohhhh dewataaaa
Begitu indah sempurna
Sijeruk dlm asuhan paduka
Titik kecil di Nusantara
Diapit dua sungai jernih
Sejernih wajah wajah saudara dan sahabat
Sejuta kata tak cukup
Sanjungkan desaku
Seribu lagu
Terlalu sedikit
Ceritakan desaku
Tempatku lahir dan besar
Tempatku berharap
Hembusan nafas terakhirku
Cintaku,,,kesungguhanku dan kerinduanku
Untukmuuuuuu
Sabtu, 26 Desember 2020
Lanjutan 1 artikel Desa Sijeruk
Beberapa tempat di Desa Sijeruk merupakan bukit-bukit kecil atau gunung. Masyarakat setempat menyebutnya dengan istilah 'punthuk' atau gunung. Ada satu gunung besar yang menjadi batas wilayah Desa Sijeruk pada bagian barat. Yaitu Gunung Pawinihan. Mendengar nama Gunung Pawinihan bagi sebagian orang tentunya sudah tidak asing lagi. Banyak cerita warga yang berkait erat dengan Gunung Pawinihan. Salah satunya adalah mengenai sejarah berdirinya Desa Sijeruk. Atau cerita berdirinya Desa Sijeruk. Karena jika kita bicara sejarah tentunya harus didukung boleh bukti-bukti yang kuat mengenai kejadian pada masa lampau.
Jati diri suatu bangsa dapat dikenali melalui sejarahnya. Dalam lingkup yang lebih kecil, tentunya karakteristik warga masyarakat juga dipengaruhi oleh sejarahnya. Walaupun tidak sesempurna sejarah pada buku-buku sejarah. Cerita mengenai terbentuknya masyarakat sebuah desa atau berdirinya sebuah desa sedikit banyak membuat kita mengenal masyarakat desa tersebut. Mengenai kisah terbentuknya atau berdirinya desa Sijeruk insyaaAlloh akan disajikan pada kesempatan yang lain dengan episod yang berbeda.
Selain Gunung Pawinihan, di samping pemukiman warga Dusun Sijeruk berdiri kokoh Gunung Wugul. Masyarakat menyebutnya Gunung Nangka. Memang di tempat tersebut tanaman buah nagka dapat tumbuh dengan baik. Nama Gunung Wugul sendiri dijadikan nama proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM) yang sekarang sedang berlangsung. Nama yang digunakan PLTM Gunung Wugul. PLTM Gunung Wugul rencananya memanfaatkan aliran air dari Kali Urang untuk menghasilkan arus listrik. Kini sedang dalam proses pembangunan.
Di sebelah timur pemukiman warga Dusun Sijeruk. Tepatnya ditengah lahan persawahan berdiri Gunung Krinjing. Dengan jarak kurang lebih satu kilometer dari permukiman. Dari jauh tersebut memang tampak seperti 'krinjing' yang dibalik dengan posisi bibir 'krinjing' di bawah. 'Krinjing' adalah nama wadah sejenis bakul namun lebih besar, terbuat dari bambu. Dahulu 'krinjing' digunakan untuk membawa barang-barang jenis sayuran atau bahan masakan. Anyaman bambu pada 'krinjing ' berbeda dengan anyaman pada bakul maupun 'tumbu'.
Kira-kira satu kilometer ke arah timur dari Gunung Krinjing, Kali Urang bertemu dengan Kali Merawu. Peda pertemuan kedua sungai inilah Kali Urang selesai. Kali urang mengalir ke timur bertemu Kali Merawu yang mengalir ke barat bdubah arah ke selatan dengan nama Kali Merawu. Mengalir terus melewati beberapa desa sampai beryeku dengan Kali Serayu yang menjadi ikon Kabupaten Banjarnegara selain Dawet Ayu dan Dataran Tinggi Dieng.
Di sebelah timur dan selatan Kali Merawu, masih berbatasan dengan Desa Sijeruk dan Desa Kalilunjar berdiri tegak Gunung Maung, yang sudah sejak lama namanya menggema dengan istilah PLTA Maung. Hal ini karena adanya rencana membendung aliran Kali Merawu yang berada di samping Gunung Maung untuk menghasilkan energi listrik.
Masih bicara tentang gunung.
Di sebelah barat daya dari Gunung Krinjing dengan jarak lebih kurang 500 meter terdapat batu besar menjulang seperti bentuk balok. Tepatnya berada di lahan perkebunan warga. Masyarakat menyebut tempat disekitar batu tersebut berada dengan nama Gunung Cilik.
Batu besar tersebut ada secara alamiah. Adapun jenis batu ini disebut sebagai jenis 'watu bangkong'. 'Watu bangkong' merupakan istilah yang digunakan warga untuk menyebut salah satu jenis batuan sedimen. Jenis batuan ini terdiri dari unsur keras dan unsur yang lebih lunak. Bagian yang lunak mudak terkikis sehingga bagian yang keras tampak menonjol di permukaan. Seperti bitik-bintik pada badan 'bangkong'. Sejenis hewan amfibi yang hidup di tempat kering. Biasanya yinggal di sekitar permukiman warga. Bangkong merupakan hewan yang memiliki racun pada tubuhnya.
Di Gunung Cilik banyak terdapat bongkahan 'watu bangkong' yang bertumpuk. Beberapa diantaranya memiliki rongga di bawahnya seperti gua namun kecil. Rongga atau gua kecil di bawah bongkahan 'watu bangkong' merupakan tempat tinggal yang nyaman bagi landak. Landak merupakan jenia hewan mamalia herbivora yang memiliki rambut kaku pada kulit tubuhnya seperti duri. Rambut duri ini berfungsi sebagai alat perlindungan diri dari serangan musuhnya.
Ada satu cerita dari orang tua mengenai Gunung Cilik. Sebagaimana yang telah saya sebutkan di atas tadi bahwa di Gunung Cilik di sela-sela bongkahan 'watu banhkong' terdapat rongga atau gua kecil. Gua kecil tersebut dahulu pernah dijadikan tempat mengungsi oleh untuk menghindari serangan tentara Belanda dari serangan pesawat tempur tentara Belanda. Mereka membawa perlengkapan masak untuk bertahan hidup di masa sulit.
Di area permukiman warga terdapat tempat yang sedikit tinggi dinamakan Gunung Sigot. Jika dilihat dari sebelah timur, Gunung Sigot merupakan tebing batu dengan jenis 'watu bangkong, dengan ketinggian lebih kurang 20 meter dari jalan. Jalan yang berada di sebelah timur Gunung Sigot merupakan jalan lama. Jalan ini dahulu merupakan jalan utama pada masa Hindia Belanda. Lalu lintas dari Banjarnegara ke Karangkobar atau sebaliknya waktu itu melalui jalan ini. Sebelum jalan yang sekarang digunakan dibangun. Jalan lama kini telah terputus, sebagian besar telah alih fungsi menjadi lahan pertanian. Sejak penulis masih kecil tidak melihat jalan itu, hanya mendengar cerita dari orang-orang tua dan beberapa tiang besi bekas tiang telepon yang berada di lahan sawah milik warga.
Adapun Gunung Sigot jika dilihat dari arah barat merupakan sebuah 'punthuk' . Punthuk adalah istilah yang digunakan warga untuk menyebut tempat yang agak tinggi seperti bukit dengan ketinggian beberapa meter. Konon dahulu Gunung Sigot dijadikan tempat Bupati Banjarnegara 'nginggeng' atau mengintai pasukan musuh yang berada di jalan. Jika kita berdiri di atas Gunung Sigot, kita bisa melihat lahan persawahan penduduk, Gunung Krinjing, Ginung Cilik, gunung Maung, Kali Urang dan Kali Merawu. Gunung Sigot juga behubung erat dengan cerita berdirinya Desa Sijeruk. Mengenai cerita ini InsyaaAlloh akan disajikan pada kesempatan yang lain dengan episid yang berbeda.
Tepat di sebelah barat Dusun Sijeruk terdapat tempat Pemakaman Umum warga. Tempat tersebut berada lebih tunggi dari permukiman warga. Disekitar Tempat Pemakaman Umum tersebut terhampar area perkebunan warga. Sebagian besar lahan perkebunan tersebut dipenuhi tanaman salak pondoh yang merupaka komoditas andalan warga Desa Sijeruk. Area perkebunan warga berada disebuah bukit dan warga setempat menyebutnya Gunung Wergul atau Gunung Wregul. Adapun sejarah tempat Pemakaman Umum warga berhubugan dengan cerita berdirinya Desa Sijeruk. Konon pendiri Desa Sijeruk menemukan makam di tengah rerimbunan tumbuhan glagah sebelum desa ini wujud.
๐๐๐ (Bersambung....)
----
Jumat, 25 Desember 2020
Desa Sijeruk
Desa Sijeruk adalah sebuah desa di wilayah kecamatan Banjarmangu Kabupaten Banjarnegara provinsi Jawa Tengah.
Wilayah desa Sijeruk terdiri dari 2 wilayah dusun, yaitu dusun Sijeruk dan dusun Gunungraja. Tiap-tiap wialayh dusun dikepalai seorang Kepala Dusun. Kepala Dusun merupakan bagian dari perangkat desa. Yang bertanggung jawab langsung kepada Kepala Desa.
Disamping pembagian wilayah mejadi 2 dusun, desa Sijeruk terdiri dari 18 Rukun Tetangga (RT) yang dikelompokkan menjadi 3 Rukun Warga (RW), yaitu; RW 1, RW 2 dan RW 3.
RW 1 terdiri dari 5 RT.
RW 2 terdiri dari 7 RT
RW 3 terdiri dari 6 RT.
Setiap kelompok RT diketuai seorang ketua RT. Sedangkan setiap kelompok RW diketuai seorang ketua RW.
Berbeda dengan Kepala Dusun, Ketua RT maupun Ketua RW tidak termasuk jajaran perangkat desa. Baik Ketua RT maupun Ketua RW merupakan tokoh masyarakat yang diberi tugas oleh Kepala Desa membantu pemerintah desa agar program pemerintah desa berjalan dengan lancar. Disamping itu salah satu tugas dari Ketu RT maupun Ketua RW adalah menjembatani warga desa dengan pemerintah terkait penyampaian aspirasi dari warga desa kepada pemerintah desa.
Adapun mengenai urusan administrasi dan kependudukan dilaksanakan Kepala Seksi (Kasi) dan Kepala Urusan (Kaur) yang bertanggung jawab kepada Sekretaris Desa. Untuk kelancaran urusan administrasi seperti pengiriman surat dengan cepat Kasi dan Kaur dibantu oleh Staf Pembantu Kaur.
Baik Kepala Dusun maupun Sekretaris Desa bertanggung jawab langsung kepada Kepala Desa.
Selain perangkat desa masih ada beberapa lembaga di desa yang bertugas mendukung dan membantu kelancaran jalannya penyelenggaraan pemerintahan desa. Lembaga-lembaga tersebut diantaranya; KPMD, LP3M, Hansip Linmas, Tim Pengerak PKK, dsb.
Secara struktural Pemerintahan Desa terdiri dari dua elemen yaitu Pemerintah Desa dan Badan Permusyawatan Desa (BPD). Pemerintah Desa dipimpin Kepala desa sebagai Eksekutif. Sedangkan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) sebagai unsur Legislatif terdiri darin 7 anggota dan diketuai oleh seorang Ketua BPD. Dari 7 anggota BPD, 6 diantaanya merupakan perwakilan dari wilayah masyarakat . Sedangkan salah satunya merupakan perwakilan dari unsur perempuan.
Dalam menyelenggarakan pemerintahan desa, Pemerintah Desa berkoordinasi dengan BPD dalam beberapa hal. Diantaranya dalam menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (Budgeting) serta menyusun dan menetapkan Peraturan Desa (Legislasi). Adapun dalam hal pelaksanaan anggaran, Pemerintah Desa bertindak sebagai pelaksana/eksekutor sedangkan BPD menjalankan fungsi pengawasan (monitoring).
Dalam menjalankan fungsinya masing-masing, Pemerintah Desa dan BPD melakukan koordinasi dengan mengedepankan musyawarah untuk mencapai mufakat. Sehingga Pemerintah Desa maupun BPD bersikap sebagai mitra kerja.
----------
Wilayah administrasi Desa Sijeruk berbatasan dengan Desa Kalilunjar di sebelah selatan dengan batas Kali Wewe. Berbatasan dengan Desa Paweden di sebelah utara dengan batas Kali Urang. Sedangkan pada bagian barat merupakqn lahan pertanian yang berbatasan dengan Desa Prendengan dan hutan Gunung Pawinihan. Di bagian timur desa Sijeruk dibatasi oleh Kali Urang dan Kali Merawu. Kali Urang yang bermata air di kaki Gunung Ragajembangan bertemu dengan Kali Merawu tepat di timur wilayah Desa Sijeruk dan airnya mengalir ke Kali Merawu. Mengenai aliran Kali Merawu berhubungan erat dengan sejarah cikal bakal berdirinya kabupaten Banjarnegara, yang ditilis pada buku Muatan Lokal Dawet Ayu Banjarnegara pada jenjang Sekolah Dasar.
Sebagian besar wilayah Desa Sijeruk merupakan lahan pertanian yang cukup subur dengan tekstur tanah sebagian gembur dan sebagian yang lain merupakan tanah berlempung. Denga kondisi miring dan cukup curah hujan pada musim tertentu.
Dengan ketinggian sekitar 700 hingga 1000 mdpl, tanah di wilayah Desa Sijeruk dapat ditumbuhi berbagai komoditas pertanian. Namun pada umumnya masyarakat petani di Desa Sijeruk mengandalkan komoditas padi, salak, dan kayu albasia untuk menopang kebutuhan hidupnya. Meskipun ada kokoditas lainnya yang digeluti pada lahan pertanian atau perkebunannya.
Dengan tekstur tanah berlempung dan miring menjadikan sebagian besar wilayah Desa Sijeruk rawan pergerakan tanah pada musim tertentu. Di sisi lain merupakan tempat yang cocok untuk mengembangkan komoditas pertanian dan perkebunan. Sebut saja tanaman yang bernilai jual tinggi seperti cengkih an kapulaga dapat tumbuh dengan baik di wilayah perkebunan Desa Sijeruk.
Begitu pula tanaman kelapa dan aren dapat tumbuh dengan baik di wilayah Desa Sijeruk. Kelapa merupakan tanaman daerah pantai/pesisir sedangkan aren merupakan tanaman daerah pegunungan.
Selain mengelola lahan pertanian dan perkebunan, sebagian warga Desa Sijeruk melakukan aktifitas ekonomi sebagai penambang batu alam. Tidak sedikit warga masyarakat Desa Sijeruk yang menekuni profesi tersebut. Hal ini tentunya bagi mereka merupakan profesi yang menjanjikan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
Ketrampilan menambang batu alam memang sudah turun-temurun sejak dulu.
-------
Rabu, 23 Desember 2020
Mangsa Kapitu di tahun 2020
Berdasarkan perhitungan Pranata Mangsa, Mangsa Kapitu pada tahun ini dimulai hari Selasa Pahing, 22 Desember 2020. Mangsa Kapitu biasanya ditandai dengan angin bertiup cukup kencang dan dengan durasi cukup lama di berbagai daerah di Jawa.
Akibat angin yang kencang ini pada masa-masa yang lalu banyak terjadi pohon tumbang atau patah. Biasanya pohon-pohon tertentu yang boleh dibilang agak getas. Seperti sebagian pohon albasia. Bagian pucuk pohon Albasia memang boleh dibilang agak getas sehingga mudah patah jika terkena tiupan angin yang kencang.
Pohon albasia memang merupakan pohon yang cepat tumbuh dan kayunya berguna untuk membuat perabot rumah tangga maupun membuat bangunan. Selain itu jenis kayu ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Hak heran banyak petani pada Mangsa Kanem menanam pohon Albasia.
Pada Mangsa Kapitu, petani biasanya sudah kurang suka menanam pohon kayu. Iji wajar saja karena jika pada Mangsa Kapitu baru menanam, hampir dapat dipastikan akar belum bisa bekerja dengan baik dalam menyeeap nutrisi pada tanah. Sementara tekana dari angin cukup kuat, sehingga resiko tanaman gagal hidup cukup besar.
Pada permulaan Mangsa Kapitu, Selasa Pahing kemarin di tempat penulis dan beberapa tempat yang dilewati tidak terjadi turun hujan. Gerimis turun di pagi hari. Itupun tidak terlalu lama. Angin pun berhembus pelan. Namun walau bagaimana pun, masyarakat perlu waspada san berhati. Karena pada Mangsa Kapitu biasanya angin kencang dapat muncul sewaktu. Yang dapat mengakibatkan pohon tumbang atau patah. Jika kebetuan pohon yang patah mengenai jaringan listrik, bisa berakibat listrik padam.
Semoga dengan membaca tulisan ini masyarakat lebih waspada dan lebih akrab dengan alam sehingga alam pun sayang dengan mereka.
-----------
Senin, 14 Desember 2020
Mangsa Kanem Tahun ini
Berdasarkan perhitungan hari pada kalender pranata mangsa kini berada pada mangsa Kanem atau mangsa keenam. Mangsa Kanem memiliki jumlah hari 43. Pada mangsa Kanem biasanya banyak terjadi hujan dengan durasi yang cukip lama. Terkadang seharian terjadi hujan atau hujan berlangsung lebih dari 24 jam. Meskipun tidak lebat, namun hujan tergolong awet.
Keadaan hujan yang berterusan mengakibatkan suhu udara terasa dingin dan udara lembab. Para petani di kampung biasanya memanfaatkan siatuasi pada mangsa Kanem untuk menanam pepohonan tanaman buah atau tanaman kayu seperti Albasia.
Hujan yang berlangsung dalam waktu lama. Dan sesekali terjadi hujan deras kerap mengakibatkan air selokan meluap ke jalan atau halaman pekarangan. Kejadian air meluap terjadi biasanya disebabkan ketika terjadi hujan lebat dan banyak material yang hanyut terbawa air hujan menuju selokan. Dan akibatnya saluran air atau selokan tersumbat. Airpun meluap.
Air yang turun terus menerus menuju bumi atau tanah semakin lama semakin banyak. Sehingga tanah mengalami kejenuhan. Daya resap tanah tentunya ada batasnya. Ketika air terus menerus menuju pori-pori tanah, masa air dalam tanah pun bertambah. Sedangkan daya rekat tanah berkurang. Terjadilah kondisi tanah longsor atau tanah bergerak yang akibat dari grafitasi bumi. Biasanya tanah longsor terjadi pada daerah dengan kondisi tanah miring (tidak rata).
Pada mangsa Kanem kali ini beberapa longsor kecil banyak terjadi di mana-mana. Sebagian tempat bahkan terjadi longsor cukup parah sehingga warga harus mengungsi ke tempat yang dianggap aman. Sebagian ruas jalan pun ada yang terputus atau rusak parah.
Mangsa Kepitu biasanya ditandai dengan banyaknya angin yang bertiup. Terkadang agak kencang. Dahulu, sewaktu saya masih kecil kalau tiba mangsa kepitu, banyak anak yang bermain baling-baling dari bambu atau kayu. Benda ini biasa disebut 'tiran' atau 'kitiran'. Asyk sekali bermain tiran waktu itu. Kayu yang digunakan untuk membuat 'tiran' biasanya jenis kayu Waru atau kayu Albasia. Tentunya memilih kayu yang baik untuk membuat 'tiran'.
Banyaknya angin yang bertiup pada mangsa Kepitu dan sesekali tiupannya cukup kencang seringkali mengakibatkan pohon roboh, tumbang atau patah pada bagian atas dekat cabang. Biasanya masyarakat menyebut pohon yang patah tersebut dengan istilah 'putung'. Pernah pada suatu ketika, di masa saya msih dusuk di bangku sekolah dasar ada warga yang atap rumahnya tercabut, terangkat kemudian terbang terbawa angin. Kemudian diperbaiki. Setelah diperbaiki ternyata tercabut lagi terangkat dan terbang lagi.
Begitulah sedikit cerita tentang keadaan atau kejadian di masa lalu.
Kini sedang berada pada mangsa Kanem. Hampir setiap hari hujan turun. Namun pada beberapa hari yang telah lalu hujan turun sepanjang hari. Dari pagi sampsi pagi lagi. Dari sore sampai sore lagi, bahkan lebih dari 24 jam hujan terus berjalan tanpa terputus. Meskipun tidak selalu hujan deras, dalam beberapa jam hujan hanya ringan saja.
Namun pada mangsa Kanem kali ini sudah muncul hembusan angin yang cukup kencang. Seperti terjadi pada mangsa Kepitu. Ini terjadi pada waktu yang boleh dibilang baru dipertengahan mangsa Kanem. Akibat dari hembusan sngin tersebut banyak dedaunan hijau yang berguguran berserakan di jalan. Terkadang disertai patahnya ranting pohon dan terlepas dari batangnya. Di antara jenis pohon yang banyak berguguran daunnya adalah pohon Albasia dan pohon Pinus.
Ada satu lagi kejadian memilukan pada mangsa Kanem tahun ini adalah tercabutnya rumpun bambu di lereng gunung Krinjing pada siang hari Sabtu Kliwon, 5 Desember 2020. Rumpun bambu yang cukup lebat tersebut berada di lereng gunung Krinjing tercabut (longsor) dan jatuh menimpa seorang petani yang kebetulan sedang bekerja di kebunnya. Beberapa hari berikutnya tiupan angin yang serupa pun masih dapat dirasakan. Sehingga pada beberapa tempat dapat dijumpai beberapa anak bermain baling-baling bambu/kayu atau 'tiran' di pinggir jalan.
Demikianlah sedikit cerita yang terjadi pada masa lampau atau yang terjadi pada beberapa hari yang lalu.
Mengenal tanda-tanda alam pola alam itu perlu, agar kita bisa waspada dan berhati-hati pada situasi apapun. Namun sebagai insan yang beriman dengan ketentuan dan ketetapan Tuhan tentunya beranggapan bahwa semua yang terjadi atas kehendak Tuhan atau takdir Tuhan. Manusia tentunya akan berusaha menghindari segala bentuk musibah dengan berbagai cara yang ia dapat lakukan. Namun kehendak Tuhan pasti terjadi. Atas kejadian yang ada marilah kita ambil pelajaran agar lebih berhati-hati dalam menyikapi keadaan.
Semoga bangsa kita dan umat manusia pada kmjmnya dihindarkan dari segala bencana. Aamiin,,
Selasa, 08 Desember 2020
PRANATA MANGSA
'Pranata mangsa' merupakan salah satu dari kalender Syamsiyah, kalender yang mendasarkan perhitungan hari pada 'kala revolusi bumi' yaitu waktu yang dibutuhkan oleh bumi untuk mengelilingi matahari selama satu kali putaran. Waktu yang dibutuhkan bumi untuk menyelesaikan satu kali putaran mengelilingi matahari disebut sebagai satu tahun.
Di tengah masyarakat Jawa dikenal dua jenis penanggalan, yaitu kalender Syamsiyah dan kalender Qomariyah.
Berbeda dengan kalender Syamsiyah. Kalender Qomariyah mendasarkan perhitungan hari pada 'kala revolusi bulan' yaitu waktu yang dibutuhkan bulan untuk mengelilingi bumi satu kali putaran.
Waktu satu tahun (satu siklus) pada penanggalan 'Pranata Mangsa' dibagi menjadi 12 bagian (mangsa), yaitu;
Mangsa kasa (kesatu)
Mangsa karo (kedua)
Mangsa katelu (ketiga)
Mangsa kapat (keempat)
Mangsa kalima (kelima)
Mangsa kanem (keenam)
Mangsa kapitu (ketujuh)
Mangsa kawolu (kedelapan)
Mangsa kasanga (kesembilan)
Mangsa kasepuluh (kesepuluh)
Mangsa desta (kesebelas)
Mangsa sada (keduabelas)
Adapun lamannya mangsa atau jumlah hari dari tiap-tiap mangsa itu berbeda,
Mangsa kasa 41 hari
Mangsa karo 23 hari
Mangsa katelu 24 hari
Mangsa kapat 25 hari
Mangsa kalima 27 hari
Mangsa kanem 43 hari
Mangsa kapitu 43 hari
Mangsa kawolu 26 hari
Mangsa kasanga 25 hari
Mangsa kasepuluh 24 hari
Mangsa desta 23 hari
Mangsa sada 41 hari
Setiap mangsa memiliki candra (ciri-ciri), yaitu;
Candrane mangsa Kasa
Sotya murca ing ngembanan. Mangsane gegodhongan padha gogrog, kekauon padha brindhil. Mangsane nandur palawija, mangsane walang ngendhog.
Candrane mangsa Karo
Bantala rengka. Mangsane lemah nela, wit randhu wiwit pradapa semi.
Candrane mangsa Katelu
Suta manut bapa. Mangsane lung-lungan padha mrambat ing lanjarane, pring lan epun-empun liyane padha ngebung (nukul), palawija mangsa panen.
Candrane mangsa Kapat
Waspa kumembeng jroning kalbu. Mangsane tuk padha pampet lan sumur padha asat. Wit randhu wiwit penthil. Manuk manyar gawe susuh.
Canndrane mangsa Kalima
Tirta marta sumawur ing jagat. Mangsa tibaning udan, asem metu sinome (semi utawa mradapa), gadung lan kunir metu godhonge, ula padha saba.
Candrane mangsa Kanem
Rasa mulya kasucian. Wowohan padha tuwa/mateng. Mangsane sawah padha digaru.
Candrane mangsa Kapitu
Wisa kawentar ing maruta. Ing mangsa iki akeh lelara panas lan weteng. Akeh kali banjir lan angin gedhe. Wong sesawah wiwit tandur.
Candrane mangsa Kawolu
Anjrah jroning kayun. Mangsane kucing gandhik, mangsane pari padha meteng lan akeh uret.
Candrane mangsa Kasanga
Wedharing wacana mulya. Mangsa gangsir ngenthir, gareng ngereng. Pari mrekatak.
Candrane mangsa Kasepuluh
Gedhong minep jroning kalbu. Mangsane sato kewan padha meteng, manuk-manuk padha gawe susuh, pari wis tumungkul.
Candrane mangsa Desta
Sotya sinara wedi. Mangsane manuk-manuk padha ngloloh.
Candrane mangsa Sada
Tirta sah saka sasana. Mangsa bediding, arang-arang wong kringeten. Mangsane bubar panen.
Berdasarkan kalender Almenak Dinding, pada 2020 masehi, mangsa Kasa bertepatan dengan tanggal 22 Juni hari Senin Wage. Bertepatan pula dengan tanggal 1 Dulkangidah 1953 (Wawu).
Sabtu, 25 Januari 2020
Pengukuhan Karang Taruna Trubus Lestari Periode 2020-2024
Acara pengukuhan pengurus Karang Taruna Trubus Lestari dilaksanakan malam ini dengan hikmat. Pembacaan sumpah pengurus dipimpin langsung oleh Kepala Desa.
Jumat, 10 Januari 2020
Kamis, 09 Januari 2020
Rabu, 08 Januari 2020
Menuju Gunung Bromo 2019
Part 1
https://youtu.be/81JMxuC0AAM
Part 2
https://youtu.be/mJTk0WutUlk
Part 3
Part 4
Part 5
Selasa, 07 Januari 2020
Selasa, 11 September 2018
KABAR KAMPUNG
Kepala Desa dalam sambutannya mempersilakan pemuda atau pemudi desa Sijeruk yang berminat dan memenuhi syarat untuk mendaftarkan diri sebagai bakal calon sekretaris desa. Selanjutnya mengikuti seleksi yang dilaksanakan oleh Panitia.
Seusai Kepala Desa menyampaikan sambutannya, bendahara Bazis desa Sijeruk melaporkan penerimaan dana zakat, infak dan sodaqoh. Dilanjutkan pembagian santunan kepada 112 warga kurang mampu dari dana yang dikelola Bazis desa Sijeruk.
Acara inti uraian hikmah Dzikir dan Doa Bersama Menyambut Tahun Baru Hijriyah dibawakan oleh Kyai Haji Lukman Fathulloh dari Banjarnegara.
Selasa, 13 Februari 2018
Landscape
Pembaca yang budiman, perkenankanlah saya menyampaikan sedikit gambaran tentang gunung Pawinihan dan sekitarnya. Semoga bermanfaat bagi pembaca yang punya keinginan untuk mengenali daerah di sekitar Banjarnegara . Bagi yang kurang berkenan saya mohon maaf. Saya tidak bermaksud menyinggung perasaan atau menghina siapa pun. Namun saya berniat sedikit berbagi dengan apa yang saya sajikan. Kritik dan saran dari pembaca akan sangat bermanfaat bagi kebaikan bersama serta pengembangan.
Gunung Pawinihan
Di tengah wilayah kabupaten Banjarnegara berdiri gunung yang tampak gagah perkasa namun cantik menawan, menawarkan seribu pesona dilihat dari berbagai arah. Ia menyimpan seribu kisah. Keberadaannya sangat membantu berbagai sendi kehidupan penduduk yang tinggal di sekitarnya. Gunung Pawinihan, begitulah penduduk menyebutnya. Ia tampak gagah dilihat dari arah timur dan utara, namun tampak begitu mempesona manakala dilihat dari arah selatan, khususnya dari sekitar kota Banjarnegara tepatnya desa Blambangan, serta jika dilihat dari arah barat di wilayah desa Kalibombong, kecamatan Kalibening.Gunung Pawinihan dikelilingi beberapa desa di kecamatan Banjarmangu, di antaranya desa Sijeruk, desa Kalilunjar, desa Kendaga, desa Pekandangan, desa Beji, desa Majatengah serta desa Prendengan. Tanahnya yang subur menghasilkan rumput yang lebat, cocok untuk pakan ternak, khususnya ternak kambing dan sapi. Tak heran jika di sekitar gunung banyak warga desa yang menggantungkan hidupnya dengan beternak kambing atau sapi, di samping juga mengolah lahan pertanian.
Mayoritas penduduk di sekitar gunung Pawinihan bermata pencaharian sebagai petani dan peternak. Adapun komoditas unggulan yang merupakan hasil pertanian/perkebunan penduduk di sekitar gunung Pawinihan adalah buah salak, khususnya salak pondoh. Sebagaimana kita tahu bahwa salak pondoh asal wilayah kabupaten Banjarnegara sudah terkenal dengan kualitasnya, karena selain buahnya besar dengan warna kulit yang menarik juga memiliki rasa manis. Barangkali humus dari gunung Pawinihan mempengaruhi kesuburan tanah di sekitarnya. Alangkah besarnya karunia Tuhan yang diberikan kepada manusia.
Selain salak pondoh Banjarnegara, masih ada lagi komoditas unggulan penduduk di sekitar gunung Pawinihan yaitu kayu albasiya atau yang sering disebut oleh penduduk sekitar dengan kayu kalbi. Jenis tanaman yang satu ini memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi. Selain memiliki nilai jual tinggi, pertumbuhannya juga relatif cepat sehingga dapat dipanen dalam waktu relatif singkat dibanding tanaman kayu pada umumnya. Kira-kira lima tahun sejak masa tanam, pohon kayu albasiya sudah dapat dipanen. Menariknya lagi, tanaman kayu albsiya dapat ditanam secara berdampingan dengan tanaman salak, sebagai tanaman pelindung.
Penduduk di sekitar gunung Pawinihan hidup dengan tentram dan damai. Mayoritas penduduk di sekitar gunung Pawinihan merupakan pemeluk agama Islam yang taat. Kehidupan pedesaan berpadu dengan pengamalan nilai-nilai agama menambah indah suasana sekitar. Keberadaan Taman Pendidikan Al Qur'an (TPQ) yang dikelola oleh guru-guru ngaji yang mendarmabaktikan waktu, pikiran, serta tenaganya demi mewujudkan kehidupan sosial yang religius seolah menjadi benteng pertahanan dari pengaruh negatif perkembangan zaman.
Hasil dari olah pertanian serta peternakan penduduk umumnya dapat untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka, termasuk untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Namun ada juga masyarakat yang bekerja ke luar daerah.
Maka nikmat Tuhan yang manakah yang engkau dustakan???
Setiap daerah serta masyarakat tentunya memiliki latar belakang sejarah. Tidak terkecuali dengan penduduk yang tinggal di sekitar gunung Pawinihan. Mengenai sejarah tentunya memerlukan kajian dari pakar. Untuk itu saya tidak akan berbicara panjang tentang hal itu. Namun, masih banyak yang disampaikan terkait keadaan di sekitar gunung Pawinihan seperti budaya, tradisi, serta opini yang berkembang di masyarakat. Untuk itu dukungan dari pembaca sangat saya nantikan. Tahukan kamu bahawa gunung Pawinihan juga mempunyai cerita?
Ada beberapa cerita yang berkembang di masyarakat yang disampaikan secara turun-temurun, salah satunya yang terkait dengan nama gunung tersebut. Pawinihan berasal dari kata dasar winih yang dalam bahasa Jawa berarti induk atau bibit. Dengan demikian Pawinihan dapat diartikan dengan 'Pembibitan'. Konon ceritanya hampir semua jenis tumbuhan yang bermanfaat bagi manusia ada di gunung itu. Terlepas dari benar dan tidaknya cerita itu tentunya setiap orang bisa memahami dengan pengalaman berpikirnya masing-masing. Walau bagaimanapun cerita itu telah berkembang secara turun temurun. Merupakan lanjutan dari cerita tersebut adalah jika seseorang yang berhati bersih datang ke gunung itu kemudian menyebutkan nama buah yang dikehendakinya, maka ia akan menemukan buah yang ia maksud di gunung itu. Tentunya kita tidak bisa serta merta menyangkal tentang kebenaran cerita itu bukan? Jika kita datang ke gunung itu kemudian menyebut buah yang kita sukai, namun tidak menemukan buah tersebut. Sebagaimana kita tahu bahwa untuk memiliki hati yang benar-benar bersih tentunya memerlukan usaha yang tidak mudah bukan? Dengan demikian jika kita datang ke gunung tersebut namun belum menemukan buah yang kita inginkan maka sebaiknya kita bertanya pada diri sendiri. Setidaknya menjadi penyemangat bagi kita untuk melakukan muhasabah yang merupakan salah satu dari perilaku baik dan bijak.
Demikian sedikit gambaran tentang gunung Pawinihan dan keadaan sekitarnya. Semoga bermanfaat bagi pembaca. Terimakasih telah meluangkan waktu untuk membaca tulisan saya yang syarat dengan kekurangan. Kritik serta masukan dari pembaca sangat saya nantikan.
lihat Sun Rise
pentingnya menjaga kesehatan














